Senin, 18 Januari 2010

Anggrek Dendrobium

A. Mengenal Anggrek Dendrobium
Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang membentang di daerah khatulistiwa yang luasnya lebih dari 8.000.000 km persegi, ditumbuhi oleh lebih dari 6.000 jenis anggrek spesies dan lebih dari 200 jenis mempunyai nilai komersial. Jumlah terbanyak ialah Dendrobium yang tumbuh di daerah panas, tumbuh didaerah Indonesia Bagian Timur, dan merupakan induk-induk bunga anggrek potong jenis Dendrobium. Dan sudah banyak hibrida-hibrida Dendrobium yang telah dihasilkan dan didaftarkan ke Sander List (Santoso S, 1988).
Anggrek Dendrobium termasuk tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh yang berbeda dengan tanaman hias lainnya. Habitat tumbuhnya ada yang tumbuh melekat pada batang pohon, dan tumbuh di atas permukan tanah, ada pula yang hidup di semak-semak. Pertumbuhan tanaman anggrek Dendrobium, baik vegetatif (pertumbuhan tunas, daun, batang dan akar) serta pertumbuhan generatif (pertumbuhan primordia atau tunas bunga, buah dan benih) tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi juga oleh faktor iklim dan faktor pemeliharaan (Widiastoety, 2007). Anggrek Dendrobium merupakan anggrek yang unik, dapat dilihat dari anggrek Dendrobium Sonia Bom Bom yang mempunyai lidah lebih besar daripada biasanya. Bunga besar dipadu dengan warna putih berbingkai merah muda cerah memancarkan pesona tiada tara. Puluhan kuntum yang berderet rapi dalam untaian tangkai menambah kecantikannya. Anggrek Dendrobium dalam pemeliharannya relatif mudah, sehingga masyarakat awam tidak sulit menikmati pesonanya. Anggrek ini rajin berbunga, serta bunga yang mekar dalam pot bisa bertahan hingga 30 hari. Seluruh sifat itu yang membuat anggrek Dendrobium tak mudah digantikan oleh tanaman lain. Apalagi semua kelebihan itu bisa diperoleh dengan harga terjangkau (Trubus, 2005).
Anggek Dendrobium dapat dinikmati keindahannya dengan berbagai cara yaitu tidak hanya sekedar di pot tapi juga menempel di pohon karena sifatnnya epifit. Mirip dengan habitatnya di pohon beberapa Dendrobium diatur berderet di batang kayu mati. Anggrek disusun sedemikain rupa sehingga tampil unik di sela-sela kayu soliter yang disangga besi. Keindahan Dendrobium semakin menonjol apabila ditata dalam taman, tampilan seperti itu sering digunakan saat pameran anggrek nasional maupun internasional. Penggunaan anggrek Dendrobium tak sebatas hanya sosok tanaman, pemanfaatan sebagai bunga potong juga demikian populer (Trubus, 2005).
Berbagai jenis anggrek Dendrobium sangat diminati oleh masyarakat, karena menghasilkan bunga yang cantik dan warna yang menawan. Disamping itu mahkota bunganya tidak mudah rontok, dibandingkan dengan jenis anggrek lainnya
Tanaman anggrek Dendrobium bersifat kospolitan (dapat dijumpai dari daerah tropik sampai sub tropik). Penyebaran anggrek ini mulai dari daerah pantai hingga daerah pegunungan dan bersalju, yang tersebar mulai dari India, Srilangka, China Selatan, Jepang ke Selatan sampai Asia Tenggara hingga kawasan Pasifik. Australia, New Zealand serta papua New Guinea (Hawkes, 1965; Gunadi, 1979; Rentoul, 1982).
Cara hidup anggrek Dendrobium adalah menempel pada benda lain seperti batang pohon, lempengan pakis, beberapa jenis ada yang bbatu batuan di lereng pegunung, dan ada juga yang tumbuh memanjat pada batang tanaman lain tanpa merugikan tempat yang ditempeli (bersifat epifit). Sedangkan pola pertumbuhannya simpodial.
Permintaan tinggi tanaman berbunga jelas jadi hal yang menarik. Kosumen lebih banyak memburu lantaran mudah dirawat. Lagi pula variasi warna dan bentuk bunga beragam sehingga konsumen yang bosan selalu mempunyai pilihan.
Pembelian bunga oleh konsumen umumnya tidak dilakukan setiap hari. Konsumen perkantoran dan hotel membeli bunga secara rutin setiap minggu, tetapi volume tidak terlalu banyak, sedang konsumen rumahan melakukan pembelian di waktu-waktu tertentu, misalnya ulangtahun, hariraya, dan kematian. (Trubus 2005)
Meskipun pasar dendobium dalam negri tidak secerah pada 1980-an, tetapi ekspor tetap berjalan. Yang di ekspor, selain bunga segar juga bibit dan tanaman. Eksportir mengirimkan anggrek itu ke singapura, Jepang, Hongkong dan Perancis. (Trubus 2005)
Melihat peluang bisnis Dendrobium sangat menguntungkan, setiap bulan pendapatan kotor bisa mencapai Rp. 16.000.000,- dari hasil penjualan 800 pot Dendrobium berbunga dari kebun 1000 m2. Oleh karena itu masih banyak peluang untuk berbisnis anggrek Dendrobium terutama binsis pembibitan anggrek dalam skala besar yaitu dapat dilakukan produksi bibit secara in vitro. Di Indonesia produksi secara in vitro masih sangat terbatas, padahal prospeknya sangat baik karena permintaan bibit bermutu masih terbuka lebar. Tanaman indukan anggrek Dendrobium yang akan dijadikan bahan persilangan harus berkualitas baik untuk produksi bibit anggrek berkualitas. Semakin beragam maka memudahkan pekebun memilih tipe, warna dan bentuk bunga yang akan dihasilkan (Trubus, 2005).
Produksi bibit secar in vitro teknologi bagi beberapa jenisi tanaman, khususnya bagi tanaman anggrek. Tidak dapat disangkal produksi secara in vitro merupakan produksi tanman secara vegetatif dalam sekala besar-besaran. Banyak jenis hybrid tanaman anggrek yang sudah dapat diperbanyak dengan cara ini.
Banyak orang salah mengira bahwa budidaya tanaman dengan secara in- vitro membutuhkan modal yang besar karena peralatan yang mahal dan bahan kimia laboratorium yang harganya tidak murah serta membutuhkan keterampilan yang khusus. Namun hal ini dapat digantikan dengan peralatan yang murah dan serta digunakan dengan optimal. Sama juga dengan bahan kimia yang sebagian dapat digantikan dengan ekstrak yang terdapat dalam buah-buahan. Namun hal ini tidak semua peralatan dan bahan dapat digantikan, akan tetapi semua ini dapat membantu biaya produki yang di keluarkan.

B. Syarat Tumbuh Anggrek Dendrobium
1. Ketinggian tempat
Anggrek Dendrobium sebenarnya memiliki daya adaptasi tinggi dan dapat tumbuh di daerah pada ketinggian tempat lebih dari 1000 meter dari permukaan laut. Dendrobium umumnya menyukai daerah panas daripada daerah dingin, tetapi beberapa jenis Dendrobium hanya bisa tumbuh di daerah dingin misalnya Dendrobium nobile dan Dendrobium cuthbertsonii.

2. Cahaya
Dendrobium bersifat epifit dengan cara tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan inangnya. Oleh karena itu, Dendrobium hanya membutuhkan intensitas cahaya dan lama penyinaran terbatas. Besarnya intensitas cahaya yang dibutuhkan sekitar 1500 – 3000 footcandle (fc). Sebagai perbandingan, saat matahari terik di siang hari, kisaran intensitas cahaya matahari sekitar 7000 – 10000 fc. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut Dendrobium membutuhkan naungan untuk mengurangi intensitas cahaya (Trubus, 2005).

3. Kelembaban
Kelembaban yang diinginkan anggrek Dendrobium berkisar antara 60% - 85% dan dengan kisaran itu maka penguapan besar-besaran pada siang hari bisa dicegah. Sedangkan malam hari kelembaban tidak boleh melebihi 70 % untuk menekan tanaman terserang penyakit. Hal tersebut dapat dilakukan degan cara menjaga media tidak terlalu basah (Trubus, 2005).

4. Suhu
Suhu udara sangat mempengaruhi proses metabolisme tanaman. Suhu udara tinggi memacu proses metabolisme dan suhu udara rendah memperlambat lajunya. Pertumbuhan Dendrobium memerlukan suhu udara rata-rata 25oC-27oC dengan suhu udara minimum 21oC-23oC dan maksimum 31oC - 34oC. Suhu siang sebaiknya 27oC-32oC, dan suhu pada malam hari 21oC-24oC. Serupa dengan cara meningkatkan kelembaban, kenaikan suhu di siang hari bisa ditekan dengan memanipulasi pengabutan dan penyiraman di lingkungan sekitar (Trubus, 2005).

5. Ketersedian air
Lokasi tepat budidaya anggrek Dendrobium harus memiliki ketersediaan air yang cukup, hal tersebut merupakan syarat yang mutlak apalagi saat musim kemarau datang. Dendrobium memang menyukai air tetapi tidak boleh berlebihan. Air digunakan saat pertumbuhan vegetatif laju pesat, tunas-tunas muda tumbuh dan sebelum berbunga. Namun, keperluan air berkurang saat tangkai bunga tumbuh dan berkurang pada periode muncul kuncup sampai mekar berbunga. (Trubus, 2005).

6. Angin
Pertukaran udara yang baik, lancar, dan teratur sangat mendukung kesehatan anggrek. Namun angin yang bertiup terlalu kencang dapat mematahkan tangkai-tangkai bunganya. Keaadan angin yang sesuai adalah angin yang bertiup sepoi-sepoi sehingga menciptakan goyangan lembut pada daun dan tangkainya serta aman untuk bunganya (Osman dan Prasasti, 1994 dalam Puspitasari, 2005).

C. Klasifikasi Anggrek Dendrobium
Pada umumnya klasifikasi tanaman anggrek didasarkan pada keistimewaan bunga, khususnya alat reproduksi. Klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai berikut Hsuang Keng, 1978; Fanfani dan Rosssi, 1989):
Kingdom : Planthae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Orchidales
Famili : Orchidaceae
Sub famili : Epidendroidae
Suku/Tribe : Malaxideae (Dressler & Dodson, 1960)
Epidendreae (Comber, 1960)
Dendrobieae (Chan et al., 1994)
Sub tribe : Dendrobiinae
Genus : Dendrobium
Species : D. bifalce, D. macrophyllum, D. phalaenopsis dll


D. Perbanyakan Anggrek Dendrobium
Perbanyakan tanaman anggrek pada umumnya dilakukan melalui dua cara yaitu, konvensional dan modern.
1. Perbanyakan Secara Konvensional
a. Perbanyakan konvensional vegetatif
Perbanyakan konvensional vegetatif bisa dilakukan melalui pemecahan/pemisahan rumpun dan atau pemotongan anak tanaman yang ke luar dari batang, yang selanjutnya ditanam ke media yang sama seperti pakis, mos serabut kelapa, arang, serutan kayu, disertai campuran pecahan genting atau batu bata. Perbanyakan secara vegetatif ini akan menghasilkan anak tanaman yang mempunyai sifat genetik sama dengan induknya.

b. Perbanyakan konvensional generatif
Perbanyakan ini dilakukan dengan menggunakan biji. Mengingat biji anggrek sangat kecil dan tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan), maka perkecambahan di alam akan sangat sulit. Oleh karena itu biji yang berhasil berkecambah biasanya dibantu oleh peran serta jamur yang melakukan simbiosis.

2. Perbanyakan Secara Modern
Kultur jaringan bila diartikan ke dalam bahasa Jerman disebut Gewebe kultur atau tissue culture (Inggris) atau weefsel kweek atau weefsel cultuur (Belanda).
Kultur in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbayak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Dasar teori yang digunakan adalah teori totipotensi yang ditulis oleh Schleiden dan Schwann (Suryowinoto dan Suryowinoto, 1977) yang menyatakan bahwa teori totipotensi adalah bagian tanaman yang hidup mempunyai totipotensi, kalau dibudidayakan di dalam media yang sesuai, akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang sempurna, artinya dapat bereproduksi, berkembang biak secara normal melalui biji atau spora.
Terdapat beberapa cara pelaksanaan kultur in vitro, tergantung bahan tanam dan media yang digunaka bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Gunawan, 1992).
Perbanyakan tanaman secara seksual melalui kultur in vitro telah berkembang untuk tanaman anggrek. Tanaman ini mempunyai buah dengan jumlah biji yang sangat banyak dan ukuranya kecil-kecil seperti bubuk tepung (Untung Santoso 2004) maka itu disebut benih.
Pada program pemuliaan tanaman, biasanya dilakukan persilangan buatan antara tanaman induk (P) untuk menghasilkan hibrid baru. Persilangan buatan lebih mudah berhasil bila dilakukan antar tanaman dengan hubungan kekerabatan yang dekat.
Penyerbukan dan pembuahan dapat berhasil namun setelah persilangan buatan seringkali dijumpai permasalahan antara lain buah yang terbentuk gugur saat embrio belum matang, terbentuk buah dengan endosperm yang kecil atau terbentuk buah dengan embrio yang kecil dan lemah. Kondisi tersebut dapat menghambat program pemuliaan tanaman karena embrio muda, embrio dengan endosperm kecil atau embrio kecil dan lemah seringkali tidak dapat berkecambah secara normal dalam kondisi biasa.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka embrio tersebut dapat diselamatkan dan ditanam secara aseptis dalam media buatan sehingga dapat berkecambah dan menghasilkan tanaman utuh. Teknik untuk menanam embrio muda ini dikenal dengan sebutan penyelamatan embrio (embryo rescue).
Selain teknik penyelamatan embrio ini dikenal juga teknik kultur embrio (embryo culture), yaitu penanaman embrio dewasa pada media buatan secara aseptis. Aplikasi kultur embrio ini antara lain perbanyakan tanaman, pematahan dormansi untuk mempercepat program pemuliaan serta perbanyakan tanaman yang sulit berkecambah secara alami, misalnya anggrek.
Embryo Culture atau kultur embrio adalah isolasi steril dari embrio muda (immature embryo) atau embrio dewasa/tua (mature embryo) secara in-vitro dengan tujuan untuk memperoleh tanaman yang lengkap. Embrio culture adalah salah satu teknik kultur jaringan yang pertama kali berhasil.

Daftar pustaka
Arianie, R. 2007. Studi Teknik Pemeliharaan Pada Anggrek Bulan (Phalaenopsis sp.) Malang: Laporan Kuliah Kerja Propesi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Darmono, D.W. 2006. Menghasilkan Anggrek Silangan. Jakarta: Penebar Swadaya

Daisy P. Wijayani, Ari. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta: Kanisius Gunawan,

L.W. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

HBO, 2008. Handoyo Budi Orchids Laboratorium Pembibitan Aggrek dan Show Room. Malang: Handoyo Budi Orchids

Hendaryono, D.P.S. 2007. Pembibitan Anggrek dalam Botol. Yogyakarta: Kanisius

Hendaryono, D.P.S dan A. Wijayani. 2006. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta: Kanisius.

Lavarack, B, W. Hariis, and G. Stocker. 2000. Dendrobium Orchids. Australia: Kangaroo Press

Santoso, U dan Nursandi F. 2004. Kultur Jaringan Tanaman. Malang: UMM Press.
_______________________. 2001. Kultur Jaringan Tanaman. Malang: UMM Press.

Trubus. 2005. Anggrek Dendrobium. Jakarta : PT Trubus Swadaya

Yusnita. 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta: Agromedia Pustaka.